Tigabelas Brutus
Saya sedang membaca buku lama yang pernah menghebohkan, Siapa Menabur Angin akan Menuai Badai karya Soegiarso Soerojo ketika saya mendapati gambar yang menarik. Di situ terpampang foto aktivis mahasiswa 1966 yang baru saja dilantik menjadi anggota DPR-GR pada tahun 1967. Mereka semua mejeng dengan wajah sumringah.
Celakanya gambar itu ternyata hanya memuat 9 mahasiswa. Padahal dari beberapa tulisan yang pernah saya baca, mestinya ada 13 mahasiswa yang masuk parlemen. Saya coba cari di internet sisanya dan sialannya…sudah 3 hari mencari, tak ada satu pun site yang punya daftar ini. Tapi tak masalah, hal itu justru memberikan dorongan untuk menuliskannya, semata untuk membantu mengarsipkannya di dunia maya.
Jadilah, saya buat artikel ini. Judulnya Tigabelas Brutus *), pemilihannya mutlak mengoper binokular yang dipakai Soe Hok Gie. Legenda aktivis mahasiswa itu memang miring dalam memandang polah tingkah rekan-rekan aktivis mahasiswa 1966 yang tergiur madu kekuasaan. Ia menilai kelompok 13 itu sebagai pengkhianat perjuangan mahasiswa 1966.
“Sebagian dari pemimpin-pemimpin KAMI adalah maling juga. Mereka korupsi, mereka berebut kursi, ribut-ribut pesan mobil dan tukang kecap pula.”**)
Lain waktu, Hok Gie berucap. “Umur mereka rata-rata mendekati 30 tahun dan telah berkali-kali tak naik kelas karena jarang kuliah. Mereka bukan lagi mahasiswa yang berpolitik, tetapi politisi yang punya kartu mahasiswa.” Hok Gie memang menolak perwakilan mahasiswa masuk menjadi anggota DPR-GR. Baginya, peran politik mahasiswa harusnya bersifat situasional, bukan permanen.
Tentu saja, streotipe dari Hok Gie ini punya tandingan suara yang berseberangan. Salah satu ‘pembelaan’ dari kubu yang didakwa oleh Hok Gie adalah kehadiran mereka di parlemen demi mengimbangi kekuatan Orde Lama pro Soekarno yang katanya masih dominan di parlemen. (Saya sendiri tidak tahu apakah suara 13 orang cukup berarti untuk mengubah komposisi).
Tapi toh, bagi Gie itu bukan dalih. Dalam beberapa tulisannya, Hok Gie masih saja rajin mengkritisi golongan ini. Ia pernah bercerita bagaimana salah seorang legislator tersebut saat berada di kampus terpaksa lari lintang pukang meninggalkan mobil kreditannya (fasilitas sebagai anggota parlemen) karena dikejar-kejar mahasiswa yang geram oleh kelakuannya.
Dan entah karena hal itu atau karena apa, beberapa di antara 13 mahasiswa itu tak cukup mulus berkarir di parlemen. Satu tahun setelah pelantikan yang dilakukan Februari 1967, beberapa di antaranya di-recall alias mengalami pergantian dengan paksa. Sementara sebagian lain - juga entah karena apa - masih duduk manis di bangku DPR-GR sampai masa jabatannya usai.
Sungguh pun begitu, di sisi lain, kesebalan Hok Gie pada mereka tak juga surut, bahkan hal terakhir yang dilakukan Gie di Jakarta sebelum menjemput maut di Gunung Semeru (1969) adalah mengirim bedak untuk eks rekan-rekannya di parlemen itu dengan ucapan agar mereka bisa berdandan cantik di muka rezim baru. Sebuah lelucon hitam. Ia masih menyimpan kecewa hingga ajal menjemputnya.
Baiklah, abaikan saja polemik soal itu, toh masing-masing orang punya kacamata yang berbeda. Jadi, cukup bahas saja fakta yang sudah ada. Berikut adalah list ke-13 mahasiswa tersebut. Eh, bukan 13 ding namun yang saya dapat dari sebuah buku ***) justru ada 14 orang! Ini data yang berbeda dengan banyak literatur lainnya baik buku atau suratkabar. Mereka adalah;
1. Sofyan Wanandi (Liem Bian Koen). Presidium KAMI Pusat, Mahasiswa FE UI. Karirnya di parlemen berlanjut di MPR. Di luar itu, Sofyan juga diajak kongsi untuk mengurus bisnis tentara yang diperolehnya karena kedekatannya dengan Sudjono Humardani. Bisnisnya dimulai dari mengurus PT Dharma Kencana Sakti dan kini Sofjan memiliki Grup usaha sendiri, Gemala.
2. Cosmas Batubara. Ketua PMKRI, Mahasiswa Sekolah Tinggi Publisistik. Cosmas bertahan 10 tahun di parlemen, sampai akhirnya Soeharto meliriknya untuk dijadikan salah satu menterinya yang juga bertahan lama. Namanya menghilang seiring runtuhnya kekuasaan Soeharto.
3. David Napitupulu. Ketua Mapancas, mahasiswa STIAN. Mapancas berarti Mahasiswa Pancasila, sebuah gerakan kampus yang berafiliasi dengan partai militer, IPKI. Sejak duduk di parlemen pada tahun 1967, lebih dari dua dasawarsa berikutnya, ia tak pernah absen duduk di DPR mewakili Golkar.
4. Nono Anwar Makarim. Eks Pemred Harian KAMI, mahasiswa FH UI. Ia menjadi anggota parlemen hanya sampai tahun 1971. Setelah itu masuk LP3ES, bergabung dengan Law Firm Adnan Buyung dan akhirnya mendirikan Law Firm Makarim & Tairas sekaligus menjadi dosen pascasarjana UI hingga sekarang.
5. Yozar Anwar. Pimpinan IMADA, mahasiswa FE UI. Seperti Nono, Jozar hanya sampai tahun 1971 saja di parlemen. Setelah itu, ia bergabung sebagai wartawan Pedoman yang dipimpin Rosihan Anwar. Setelah Pedoman dibreidel, di tahun 1980-an Yozar memimpin majalah wanita, Pertiwi. Yozar wafat 1999.
6. Fahmi Idris. Pimpinan HMI, Mahasiswa FE UI. Fahmi terbilang paling awet berputar di tangga kekuasaan. Bahkan sampai sekarang pun ia masih menjabat sebagai menteri. Sebenarnya Fahmi hanya sampai tahun 1968 di parlemen. Ia keluar karena di-recall. Setelah itu ia banyak berniaga ternasuk bergabung dengan Krama Yudha Tiga Berlian. Pemilik Grup Kodel ini baru kembali lagi berpolitik tahun 1984 dengan bergabung pada Golkar.
7. Mar’ie Muhammad. Ketua HMI, Mahasiswa FE UI. Selepas menjadi anggota parlemen, ia membangun karir di birokrasi. Dianggap sukses saat menjadi dirjen pajak, Mar’ie promosi menjadi menteri keuangan di tahun 1993. Ia memiliki reputasi sebagai Mr Clean. Saat ini lebih banyak berkiprah di bidang sosial.
8. Muhammad Zamroni. Ketua PMII, mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah. Zamroni juga awet sebagai anggota DPR sejak masuk pada tahun 1967 (setidaknya hingga akhir 1980-an). Hanya bedanya, ia tak berdiri di bawah naungan Golkar, melainkan ikut masuk PPP.
9. Slamet Sukirnanto. Ketua Presidium KAMI Pusat, mahasiswa FS UI. Karir Slamet di parlemen terbilang singkat. Ketika masa jabatan habis, ia mengasingkan diri dari dunia politik dan memilih total menekuni dunia sastra. Ia menerbitkan banyak puisi dan aktif di Dewan Kesenian Jakarta serta Muhammadiyah. Ia baru muncul lagi di pentas politik, meski secara tak langsung, saat ikut membidani berdirinya ICMI di tahun 1991.
10. Soegeng Sarjadi. Ketua HMI Bandung, mahasiswa Publisistik Unpad. Soegeng hanya mampu bertahan satu tahun di parlemen sebelum ahirnya di-recall. Sempat luntang lantung selama 2 tahun, Soegeng terdampar di PT Krama Yudha Tiga Berlian. Lalu bersama Fahmi Idris, ia mendirikan Kodel Grup namun di tahun 1980, ia melepaskan diri dengan membentuk PT Parama Bina Tani. Kini ia dikenal melalui LSM Politik, Soegeng Sarjadi Syndicate.
11. Firdaus Wadjdi. Aktivis HMI, mahasiswa FE UI. Sama seperti Fahmi Idris dan Soegeng Sarjadi, Firdaus pun di-recall dari kursi DPR tahun 1968. Setelah itu, ia banyak berwirausaha di bidang perkapalan. Firdaus sempat kembali ke kursi MPR pada tahun 1982-1987. Putranya, Muhammad Lutfie kini menjadi Kepala BKPM.
12. Johnny Simandjuntak. Perjalanan hidup tokoh yang satu ini belum saya temukan.
13. Tengku Zulfadli. Idem di atas
14. Salam Sumangat. Idem di atas, namun dalam list anggota DPRD DKI 1997 sempat ada anggota dewan bernama serupa.
Di luar nama itu, beberapa golongan mahasiswa juga masuk menjadi anggota DPR-GR atau MPRS (saja). Namun agaknya mereka tidak duduk dalam kapasitas mewakili mahasiswa. Mereka di antaranya:
RAF Mully. Ketua KAMI Bandung, mahasiswa ITB. Ia aktivis yang dikenal punya idealis kokoh, karenanya agak mengherankan saat Mully menerima kursi anggota MPRS. Tapi ternyata ia memang tak mampu bertahan lama. Tak sampai setahun, masih di tahun 1967, Mully mengirim surat ke presiden memohon pengunduran dirinya. Lepas dari DPR, ia menjadi karyawan biasa di sebuah perusahaan kayu di Surabaya. Menariknya, sampai dengan akhir hidupnya RAF Mully ternyata WNA Belanda.
Sabam Sirait. Aktivis GMKI, Mahasiswa FH UI. Saat dilantik menjadi anggota DPR-GR, sudah 7 tahun menghuni kampus Salemba. Ia tak lulus-lulus karena waktunya lebih banyak untuk berorganisasi. Ia masuk bukan sebagai wakil mahasiswa namun wakil Karya Pembangunan. Setelah lepas dari parlemen tahun 1971, dua tahun kemudian, ia kembali masuk setelah merapatkan diri ke PDI dan lalu PDIP.
*) Brutus adalah sosok pengkhianat dalam sejarah emporium Romawi, dimana ia menohok Julius Caesar.
**) Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani, Dr John Maxwell, Grafiti Pers, 2001
***) Ahmaddani G. Martha, Christianto Wibisono, Yozar Anwar: Pemuda Indonesia dalam Dimensi Sejarah Perjuangan Bangsa
sumber : Anusapati.com
No comments :
Post a Comment