Puasa adalah waktu dimana kita berusaha menahan Adam & Hawa nafsu, tapi tidak untuk tulisan kali ini. Saya nafsu naget setelah baca berita negeri ENDONESA.
Kota Balikpapan memang sedikit konsumtif dan mahal, setidaknya menurut saya. Benar atau tidak kota ini terlihat kedodoran pusat perbelanjaan. Ada 2 Mall, 3 pusat belanja, 4 pusat perkulakan sembako (kalau tidak salah hitung), dan akan bertambah 2 mall yang rencananya akan dibangun di Jl Sarifuddin Yoes dan Eks PUSKIB.
Dengan pendapatan asli daerah yang diproyeksikan menembus angka Rp. 300 Miliar, tentu berpengaruh kepada kesejahteraan warga kota (logikanya begitu). Lha wong gaji walikota & wawali saja Rp 100 juta perbulan, masa masyarakatnya tidal makmur. "Hei... itu pejabat, jangan samakan masyarakat" kata seorang kawan mendebat. Menganut logika sederhananya Mas Sujiwo Tedjo : Pejabat dan anggota Dewan itu wakil rakyat. Karena rakyat terlalu sibuk untuk mencari penghidupannya sendiri, sehingga urusan pemerintahan di wakilkan ke mereka. Berarti kedudukan rakyat adala lebih tinggi dari pejabatkan?
Mengapa malah wakil rakyatnya (berlomba) bergaji logika masuk akal menurut saya.
Nah disisi lain, ada banyak juga bantuan yang tidak tepat sasaran. Contoh : Ada seorang kawan (*sebut saja namanya Paijo) yang dirumahnya jelas-jelas terpampang stiker Keluarga Miskin. Memang begitu kita masuk rumana, sangat berantakan. Berantakan oleh
barang-barang luar negeri hasil melancong ke luar negeri. Anehnya lagi, tu keluarga masih dapet Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Oke banget kan?
Bantuan semacam ini juga aneh, di mana rakyat dibuat susah dulu melalui penaikan harga BBM lalu seolah-olah datang dewa penolong memberikan bala bantuan. Toh hal itu tidak sebanding dengan harga-harga jelang, selama, dan pasca puasa. Puasa Ramadhan seolah saat dimana semua orang bisa menjadi pegusaha dengan berjualan di lapak atau trotoar jalan. Kemarin-kemarin 11 bulan pada kemana? kok baru muncul pas Ramadhan saja? Dagangan juga tidak pasti habis, sehingga ada dagangan yang sengaja dijual kembali esok hari tanpa pengendalian kualitasnya (*baca Jebakan Takjil). Efek lain dari kenaikan BBM dan hadirnya bulan Ramadhan adalah besar dan kecil dari nilai tukar uang. Misalnya : Harga makanan yang biasanya 18.000 akan membesar jadi 19.000, dan ukuran makanannya diperkecil. Saya membuktikan sendiri di warung makan deret selatan Lapangan Sudirman (Kantor Pos). Entah apa motifnya yang jelas menurut saya motifnya
adalah Omset Tahunan jelang Lebaran. Pendapatan harus lebih, gimana
caranya ya bisa di[ikirkan belakangan. Setuju, tapi caranya harus jujur. Ini Bulan penuh berkah jangan lupa banyak sedekah.
Sumber:
http://www.jurnas.com/news/81537/%3Cem%3EAstaga%3C_em%3E,_Pendapatan_Wali_Kota_Balikpapan_Rp_100_Juta_Perbulan/1/Nasional/Nusantara
http://news.okezone.com/read/2013/05/24/339/812048/bantuan-langsung-tunai-sarat-muatan-politis
No comments :
Post a Comment