Saturday, July 20, 2013

Bulan penuh "nyumbang"

Bulan lalu, sebelum bulan Ramadhan tiba setiap orang kebanyakan pasti juga merasakan hal yang sama dengan saya (kecuali yang acuh atau tidak punya banyak kenalan). Nyumbang mantenan. Lain bulan lain pula modus nyumbangnya. Apalagi masuk bulan Ramadhan. ada juga ritual nyumbang.


Nyumbang yang dimaksud di sini adalah nyumbang dengan atribut payung hukum agama dimana di bulan Ramadhan semua amal dan ibadah akan diganjar lebih besar dari bulan lain. 
Dari Salman Al-Farisy ra yang diriwayatkan secara marfu', "Siapa yang mengerjakan amal sunnah meski kecil, sama seperti orang yang mengerjakan amal fardhu. Siapa yang mengerjakan amal fardhu, seperti mengerjakan 70 amal fardhu.". 
Dari Anas bin Malik ra yang diriwayatkan secara marfu', "Sedekah yang paling afdhal adalah yang diberikan di bulan Ramadhan." (HR Tirmizy). 
Maka dengan maksud menggandakan amalan, banyak orang yang mengatasnamakan hadist tersebut (tentunya dengan pakaian lebih agamis) mengetuk pintu setiap muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Di satu sisi menolak karena mereka datang pada saat yang tidak tepat (saat istirahat siang atau sore hari saat menyiapkan hidangan buka puasa) dan di sisi lain ingin menyumbang tapi kadang ragu akan keabsahan kepala surat yang ada di lembar donatur. Asli atau cuma fiktif belaka.

Suatu hari ketika saya kedatangan 2 orang musafir yang meminta sumbangan. Pada saat saya tanya dengan santai, salah satu dari mereka menjawab dengan gugup. Saya jadi ragu, tapi saat itu saya hendak pergi merampungkan proyek kecil. " Ini Sumbangan dari mana Pak?" tanya saya. Salah satunya menjawab : "Emmm dari Samarinda Pak" Buset kok jauh amat mintanya sampai Balikpapan. Apakah di Samarinda sudah tidak ada orang yang mau nyumbang? Apakah ini modus lama yang mengatasnamakan tempat ibadah yang sedang di bangun atau direnovasi? Kebetulan di rumah juga masih ada  1 proposal permintaan bantuan dana renovasi masjid di Samarinda. Pertanyaan saya juga masih sama : Proposal ini asli atau hanya fiktif? Apakah warga ibukota propinsi Kalimantan Timur sudah tidak peduli lagi dengan rumah ibadah di wilayahnya? Miris dan ada rasa dongkol dihati, tapi ya sudahlah. Semoga nyumbangnya menjadikan kebaikan bagi mereka. Aamiin. 

note:
Jangan pernah meminta-minta dengan atribut agama tertentu (peci, jubah, kerudung, sorban, celana gantung), itu bisa jadi merusak cermin keagungan agama tersebut.

rev: http://www.rumahfiqih.com/ust/e2.php?id=1186843634

No comments :