Aaah...
Masih saya dia membayangiku, berkelebat sesaat dan menghilangkan jejak-jejak di kepalaku. Bosan sudah menyisihkan memoar dalam katup mimpi. Yah, jika tak bermimpi maka akan mati semua angan kita. Begitupun berharap... Angkuh menyeruak.
Menyambangi "ekor tikus" yang sedari tadi hanya diam. Akhirnya bergerak juga dikau sayangku. Dengan setengah hati membuka folder-folder alfabet yang berisi gambar-gambar berwarna merona. Tetap saja tak bisa 100% dapat mengucurkan kran ide yang mampet. Begitupun berharap... Angkuh membekap.
Aku mengintip dari jendela. Ya, hujan telah reda. Seraya membolak-balik catatan pekerjaan yang tertunda oleh sundulan dan tendangan bola dipagi hari, aku pun menggeliat dan tetap kosong. Begitupun berharap... Angkuh memelukku
Hari ini berlalu dengan cepat, tanpa ada yang bisa terselesaikan. Semuanya butuh proses, pun jalur pensil menjadi sebuah guratan gambar. Yah... Proses dan masih saja proses. Biar saja tenggang waktu berlalu, toh tetap saja proses. Begitupun berharap... Angkuh merajam
Bosan dengan 17 inchi di depan mata, aku mengukur seberapa kilometer yang bisa kutempuh hari ini di lajur kiri, dan 2 liter bahan bakar yang dikompresikan piston bertenaga 110 cc hanya menjadi sampah udara. Yah, lelah di raga dan masih saja bermimpi untuk tuntas. Begitu ku berharap dengan angkuh.
-bppncaveroom 160610/01:25AM-
Monday, June 21, 2010
Energi berbatas waktu
Langit cerah
Aaahai meriah warna kotaku hari ini
Gerah berujung di bibir gelas
Segarnya membuatku terhempas pulas
Aaahai meriah warna kotaku hari ini
Gerah berujung di bibir gelas
Segarnya membuatku terhempas pulas
Menara Pinus
Part 1
Masih ingin menyambangi hutannya yg teduh. Dengan riuh suara menyayat ego, serta mendulang berbingkai-bingkai warna hijau dan oranye.
Mengepul-ngepul berbagi asap dan basahnya kerongkongan oleh aroma. Api yg memakan bara, berkerak dalam lubang. Kutuang lagi, lagi dan lagi. Tak puas juga mereguk nikmat.
Di balik punggung dingin merayap. Beban.
Carrier merah yg menyalakan gelap. Berkelebat menyingkap gerbang sakit jiwa. Kukunyah saja getir di tengkuk. Merinding dan berkelebat.
Part 2
Masih dalam bejana hidup dan mereaksikan otot pikiran. Brainstorming tentang kondisi medan laga. Bla bla bla...
Senjata telah dilumasi, amunisi penuh dikotak peluru. Siap tempur dan siap hancur. Istirahatkan jasadmu sekarang!
Upatku!! Musuh tak kunjung tiba sambut peluru. Sudahlah merendah dan membumi saja, menyatu ke tanah basah yg dihujani kilatan petir sore tadi. Dalam gelap (lagi) menjadi teman. Adrenalin berayun. Lelap menghujat.
Sampaikan padaku temuan cerah cahaya di timur.
-bppncaveroom 00:10-
Part 3
Biadab menggurat jejak dibatu. "Aku taklukkan angkuhmu!" Injak, tendang, iris, bacok, pukul. Pun tetap bisu. Teriring deras mendinginkan getah tangis pinus teraniaya.
Tebal nyali kota hitam dan hijau buatan. Di sini tetap biru, hijau, putih. Meninggalkan oranye dan merah muda di horizon.
-bppncaveroom 110410/00:43-
Masih ingin menyambangi hutannya yg teduh. Dengan riuh suara menyayat ego, serta mendulang berbingkai-bingkai warna hijau dan oranye.
Mengepul-ngepul berbagi asap dan basahnya kerongkongan oleh aroma. Api yg memakan bara, berkerak dalam lubang. Kutuang lagi, lagi dan lagi. Tak puas juga mereguk nikmat.
Di balik punggung dingin merayap. Beban.
Carrier merah yg menyalakan gelap. Berkelebat menyingkap gerbang sakit jiwa. Kukunyah saja getir di tengkuk. Merinding dan berkelebat.
Part 2
Masih dalam bejana hidup dan mereaksikan otot pikiran. Brainstorming tentang kondisi medan laga. Bla bla bla...
Senjata telah dilumasi, amunisi penuh dikotak peluru. Siap tempur dan siap hancur. Istirahatkan jasadmu sekarang!
Upatku!! Musuh tak kunjung tiba sambut peluru. Sudahlah merendah dan membumi saja, menyatu ke tanah basah yg dihujani kilatan petir sore tadi. Dalam gelap (lagi) menjadi teman. Adrenalin berayun. Lelap menghujat.
Sampaikan padaku temuan cerah cahaya di timur.
-bppncaveroom 00:10-
Part 3
Biadab menggurat jejak dibatu. "Aku taklukkan angkuhmu!" Injak, tendang, iris, bacok, pukul. Pun tetap bisu. Teriring deras mendinginkan getah tangis pinus teraniaya.
Tebal nyali kota hitam dan hijau buatan. Di sini tetap biru, hijau, putih. Meninggalkan oranye dan merah muda di horizon.
-bppncaveroom 110410/00:43-
Jarum Jam, televisi, mimpi dan hati
Detak detik mengalun. Senyap tenggelam. Menyorot tajam dalam 21 inchi. Berkejap kemasi 3 tahun di belakang dan bergegas berjejal dalam ransel.
Hai... Penjaja impian muram, temanilah dalam lolongan purnama hari ini. Karena gerimis yg brtalu buatku sakit. Pedih. Warna merah hijau dan biru, berpendar digelap kali ke dua. Aaargh... Lelah menanti kau kembali. Serpihan yg terhanyut, berlalu.
Raga bergelimpangan, berdekap, bertalian. Ada hati yg tak sempat berucap. Sampai adzan brkumandang. Hanya bisu.
Balikpapan: 09052010/23.45pm
Hai... Penjaja impian muram, temanilah dalam lolongan purnama hari ini. Karena gerimis yg brtalu buatku sakit. Pedih. Warna merah hijau dan biru, berpendar digelap kali ke dua. Aaargh... Lelah menanti kau kembali. Serpihan yg terhanyut, berlalu.
Raga bergelimpangan, berdekap, bertalian. Ada hati yg tak sempat berucap. Sampai adzan brkumandang. Hanya bisu.
Balikpapan: 09052010/23.45pm
Kalau kuberi judul ini bagaimana
Sudah kusiapkan semua. Tinggal kau pilih mana suka. Serambi menodongkan matanya. Mari bergerak. Bergentayangan kala 12 berdentang. Mari kemari dalam senyapku. Bergurau dengan kematian.
Berita konyol. Entah berapa kali bintang itu berucap, toh akhirnya cuma celoteh kerupuk melempem dgn bumbu kacang berlombok rawit 10.
Sialnya lagi, kitab-kitab tak kunjung kembali. Energi sudah penuh, tapi tetap butuh jurus lama yang dimodifikasi. Sajian khas nan ceria ber-CMYK. Asal kau diam dan kembalikan kitab-kitabku. Kuberi lebih dari ingin dan anganmu.
Halus sekali. Racikan dalam setiap hirupnya. Melompat-lompat di sudut sempit. Celahnya nyaris tertutup. Aaaah biarlah lewat walau sedikit. Enyah sudah.
Berdering lagi, mendenging sakit di frekuensi tinggi. Sakit... berkejap-kejap untuk semua rapat repot hari nanti.
-bppncaveroom 160410/22:42-
Berita konyol. Entah berapa kali bintang itu berucap, toh akhirnya cuma celoteh kerupuk melempem dgn bumbu kacang berlombok rawit 10.
Sialnya lagi, kitab-kitab tak kunjung kembali. Energi sudah penuh, tapi tetap butuh jurus lama yang dimodifikasi. Sajian khas nan ceria ber-CMYK. Asal kau diam dan kembalikan kitab-kitabku. Kuberi lebih dari ingin dan anganmu.
Halus sekali. Racikan dalam setiap hirupnya. Melompat-lompat di sudut sempit. Celahnya nyaris tertutup. Aaaah biarlah lewat walau sedikit. Enyah sudah.
Berdering lagi, mendenging sakit di frekuensi tinggi. Sakit... berkejap-kejap untuk semua rapat repot hari nanti.
-bppncaveroom 160410/22:42-
Batu, hantu, dan sembilu
Batu.
Menyudut tingkahnya tersilau mata binar dinar.
Hantu di lorong waktu yg mati, menerawang mengambang
Berdesis uap air yg meletup-letup.
Cangkir-cangkir tertata, dan gelak tawa membahana. Berhamburan.
Sembilu
Membuat biru. Berlalu.
Topeng dengan suara berkoar: "Aku tidak bersalah!"
Dan ketok palu memvonisnya. MATI!!
Menyudut tingkahnya tersilau mata binar dinar.
Hantu di lorong waktu yg mati, menerawang mengambang
Berdesis uap air yg meletup-letup.
Cangkir-cangkir tertata, dan gelak tawa membahana. Berhamburan.
Sembilu
Membuat biru. Berlalu.
Topeng dengan suara berkoar: "Aku tidak bersalah!"
Dan ketok palu memvonisnya. MATI!!
Cek cek. Mic dicek. Tes tes 123
Harapan dan kenyataan, sesuatu yg biasa untuk digambarkan. Berjarak tipis dari kanvas hidup. Sedikit berkelit dari jalur, maka hancur lebur. Berkilah tentang argumen, nyata yang menambang.
Urat yg merambat, alot untuk dicabik
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)