Wednesday, November 26, 2008

Membangun industri kreatif di Balikpapan

Sebuah tantangan besar yang dihadapi oleh setiap penggiat kreatif khususnya Desain Komunikasi Visual (DKV)di Balikpapan.
Kurangnya wawasan dan pengkerdilan kreatifitas yang terjadi karena tidak terbukanya pintu silaturahim yang menjadi landasan kekuatan antar kreator. Ada kecarut marutan yang terjadi pada setiap hubungan antar komunitas kreatif. Individualistisme yang di pegang teguh oleh setiap pencipta karya perlu dicairkan dengan sering diadakannya kegiatan pameran ataupun gelar seni dan budaya, agar terjalin forum budaya lokal yang lebih membumi.

Harusnya keheterogenan masyarakat Balikpapan menjadi sebuah aset budaya, sehingga tidak hanya saudara-saudara di pedalaman Kalimantan yang menjadi sumber ekspoitasi budaya. Melek terhadap wawasan berkesenian juga harus segera dibudidayakan, tidak hanya berkuntat dengan ilmu keteknikan yang masih menjadi andalan wawasan keilmuan masyarakat Balikpapan. Bila tidak bekerja di industri alat berat atau minyak, batubara dan gas alam, kiranya belum afdol. Itu sama saja pemampatan terhadap wawasan berkreatifitas kita. Sehingga masyarakat seni khususnya desainer komunikasi visual, yang ada di bumi Kalimantan merasa terkungkung ruang geraknya, dan akhirnya dianggap seperempat mata atau bahkan dilupakan dari ranah industri kreatif Balikpapan

Dalam dunia pendidikan khususnya DKV, terjadi pembentukan karakter seseorang, bagaimana seseorang itu berkembang itu terserah dari individu tersebut. Kesempatan yang terbuka bagi orang kreatif selalu sempit, tapi itu merupakan jalan menuju lorong bumi industri kreatif khususnya DKV yang masih menawarkan lava pijar imajinasi yang luar biasa panasnya. Obrolan singkat dengan salah satu suhu saya, menyingkap bahwa segala segala sesuatu di tanah Kalimantan masih diukur dengan uang. Tidak ada kebebasan dalam mengeksploitasi karya, dalam artian tidak adanya kebebasan berekspresi diri bagi aktivis dan kreator. Yang dihargai masih sebuah hasil akhir bukan proses bagaimana sebuah karya itu dihasilkan. Bukankah untuk membuat hasil akhir perlu dimulai dari sebuah ide, konsep, data verbal, data visual, untuk selanjutnya mengarah ke eksekusi desain yang matang?

Tak dipungkiri para penggerak desain masih terkotak-kotak, dan berusaha menunjukkan keidelismeannya masing-masing. Merunut dari kasus tersebut, langkah yang diambil adalah bagaimana menjadikan seteru sebagai sekutu. Yaitu merangkul setiap lawan tanding menjadi sebuah tim yang kuat, untuk selanjutnya dimanfaatkannya jaringan yang terjalin menjadi sibiosis mutualisme bagi industri kreatif. Desainer-desainer muda lokal Balikpapan, masih perlu belajar lebih keras untuk dapat memasuki industri kreatif yang sarat dengan persaingan skill dan penguasaan teknologi. Tidak hanya bermodalkan semangat berapi-api, perlu juga ditingkatkan daya imajinasi untuk menangkap realitas sosial budaya masyarakat yang terjadi di keseharian kita. Itu menjadi penting bilamana terjadi kebuntuan ide terhadap sebuah project karya visual. Jadilah seorang desainer yang terbuka terhadap realitas yang terjadi di masyarakat dan tak lelah untuk belajar serta berdoa. Tuhan beserta orang-orang pemberani.

*) C.Jayadi / keep fight for the right

Tuesday, November 25, 2008

LAWAN KETERBATASAN

Tak dipungkiri bahwa fungsi sekolah adalah tempat mendidik dan mengembangkan minat dan bakat setiap individu. Mungkin sebagian siswa berharap bahwa fasilitas yang akan didapatkan di sekolah akan dapat menunjang keinginan maju setiap siswa. Bila dilihat dari berbagai aspek dan latar belakang kehidupan sosial mereka, tidak dipungkiri sebagian dari mereka ada yang masuk kategori C-D. Jadi bagaimana mungkin mereka juga dapat belajar kembali di rumah, untuk menerapkan ilmu dari sekolah, bila di sekolah pun mereka tidak dapat menikmati fasilitas tersebut.

Menilik dari hal tersebut dan kilas balik sejenak perjuangan mereka, dengan semangat yang luar biasa mereka berbondong-bondong untuk masuk ke dalam institusi pendidikan kejuruan dengan status siswa. Setelah melalui proses yang panjang, mereka akhirnya dinyatakan resmi masuk sebagai "anggota". Setelah mendapatkan seragam, buku, jadwal pelajaran, dan masuk belajar, betapa kagetnya mereka begitu mendapati kelas dan fasilitas yang terdapat di dalamnya tidak seperti yang dibayangkan. Kalaupun ada fasilitas tersebut, mungkin sudah dianggap kadaluarsa. Jalan yang biasa ditempuh adalah pemerasan terselubung terhadap siswa dengan dalih untuk pengembangan kemampuan individu mereka. Padahal secara teknis hal itu tidak terjadi, pun terjadi tidak prosedural, yang beranakpinak pada pembodohan siswa tersistematis. Untuk bangsa yang besar, hal memalukan, tapi untuk urusan perut yang semakin "membesar" hal ini biasa saja.

Rasa haus akan ilmu, juga tidak akan bisa terlampiaskan oleh siswa, bila cuma mengandalkan ilmu dalam otak pengajar yang kadang terbatas dan beku pada titik 0 derajat. Pengadaaan workshop untuk disiplin ilmu tertentu layak untuk dipertimbangkan dan rutin untuk diadakan agar didapat pembanding antara ilmu sekolah dengan ilmu industri, bukan hanya siswa yang setiap tahunnya harus turun gunung ke industri untuk melaksanakan PI, PKL, atau apapun namanya. Tapi industrilah yang harusnya turun ke sekolah (dengan mengikuti prosedur) untuk berbagi ilmu. Bagaimana Indonesia maju kalo setiap individu cuma berusaha untuk saling tipu menipu dan membodohi antar rakyat bangsa ini ? Sementara mereka yang berilmu cuma menjadi budak pekerja negara lain ? Sebuah pe-er BESAR untuk dunia pendidikan kita.

Kesimpulannya adalah keterbatasan fasilitas ataupun tenaga pengajar dapat teratasi bila kita sebagai orang yang peduli akan pendidikan (Indonesia umumnya) dapat saling berbagi ilmunya dan langsung turun ke lapangan untuk melihat betapa terpuruknya dunia pendidikan kita saat ini. Jangan hanya teriak lantang tanpa bisa membuktikan, bahwa kita memang bisa dan mampu untuk mengangkat bangsa ini ke tempat yang lebih baik. Semua orang bisa menyerah. Itu hal yang termudah yang bisa dilakukan di dunia. Tapi tetap bertahan saat semua orang menganggap kita akan gagal, itulah kekuatan sejati. Meminjam tema Pinastika Ad Festival 2006, LAWAN KETERBATASAN !!!

*) C. Jayadi / keep fight for the right

Berpikir keras dari sikap kelas kepala

Berbicara menyoal judul di atas, sebenarnya hanya kiasan belaka. Jangan menilai buku hanya dari sampul luarnya saja, yang bener ya dibeli dengan mata uang yang berlaku di tempat itu. Betul?? So cuma berbagi aja tentang IDE
Ide bagi saya adalah sesuatu yang ada disekitar lingkup hidup manusia, mulai dari bangun tidur sampai kembali bercengkrama dengan impian malam hari lagi. Maksudnya (seperti diungkap Om Bud / Lanturan tapi Relevan) Ide itu jinak2 merpati, tapi bisa membuat sebuat karya "segajah" yang fenomenal, sampai kadang2 yang menikmati karya tersebut geleng2 kepala. Kok gak kepikiran ya? Bagaimana kepikir kalo kepalanya sekeras batu? Batu gak punya otak kan?? Jadi slow but sure aja. Pada batasan yang wajar, seseorang bisa berpikir jernih dalam lamunan dan khayalan yang penuh kenikmatan batin. Sehingga pencerahan bisa datang.Sebuah contoh mudah, kadang bila kita berpikir keras untuk mendapatkan ide dan pencerahan isi otak, pikiran kita sebenarnya belum rileks. Temukan saat2 membahagiakan untuk rileks dan penuh kenikmatanya dulu, misal saat berada di toilet. Konsentrasi kita cuma gimana caranya "sampah pribadi" bisa nongol dan nyemplung ke kloset. Yang laen gak kepikiran kan?? Nah biasanya sembari menunggu sampah tadi, lamunan dan khayalan melambung tinggi. Biarkan itu... Dan "hap lalu ditangkap"-lah ide tersebut. Jangan lupa untuk terus mengingatnya sampai menyelesaikan ritual buang sampah yang jadi tujuan utama. Segera catat apapun yang tadi terlintas dalam sirkuit pikiran kita. Biarpun gak nyambung dan gila, tapi suatu saat pasti ada yang bisa digunakan menghasilkan karya. Saya menyebutnya TOILET IDEA. Mau mencoba buktikan???


*) C.Jayadi / keep fight for the right