Sebuah tantangan besar yang dihadapi oleh setiap penggiat kreatif khususnya Desain Komunikasi Visual (DKV)di Balikpapan.
Kurangnya wawasan dan pengkerdilan kreatifitas yang terjadi karena tidak terbukanya pintu silaturahim yang menjadi landasan kekuatan antar kreator. Ada kecarut marutan yang terjadi pada setiap hubungan antar komunitas kreatif. Individualistisme yang di pegang teguh oleh setiap pencipta karya perlu dicairkan dengan sering diadakannya kegiatan pameran ataupun gelar seni dan budaya, agar terjalin forum budaya lokal yang lebih membumi.
Harusnya keheterogenan masyarakat Balikpapan menjadi sebuah aset budaya, sehingga tidak hanya saudara-saudara di pedalaman Kalimantan yang menjadi sumber ekspoitasi budaya. Melek terhadap wawasan berkesenian juga harus segera dibudidayakan, tidak hanya berkuntat dengan ilmu keteknikan yang masih menjadi andalan wawasan keilmuan masyarakat Balikpapan. Bila tidak bekerja di industri alat berat atau minyak, batubara dan gas alam, kiranya belum afdol. Itu sama saja pemampatan terhadap wawasan berkreatifitas kita. Sehingga masyarakat seni khususnya desainer komunikasi visual, yang ada di bumi Kalimantan merasa terkungkung ruang geraknya, dan akhirnya dianggap seperempat mata atau bahkan dilupakan dari ranah industri kreatif Balikpapan
Dalam dunia pendidikan khususnya DKV, terjadi pembentukan karakter seseorang, bagaimana seseorang itu berkembang itu terserah dari individu tersebut. Kesempatan yang terbuka bagi orang kreatif selalu sempit, tapi itu merupakan jalan menuju lorong bumi industri kreatif khususnya DKV yang masih menawarkan lava pijar imajinasi yang luar biasa panasnya. Obrolan singkat dengan salah satu suhu saya, menyingkap bahwa segala segala sesuatu di tanah Kalimantan masih diukur dengan uang. Tidak ada kebebasan dalam mengeksploitasi karya, dalam artian tidak adanya kebebasan berekspresi diri bagi aktivis dan kreator. Yang dihargai masih sebuah hasil akhir bukan proses bagaimana sebuah karya itu dihasilkan. Bukankah untuk membuat hasil akhir perlu dimulai dari sebuah ide, konsep, data verbal, data visual, untuk selanjutnya mengarah ke eksekusi desain yang matang?
Tak dipungkiri para penggerak desain masih terkotak-kotak, dan berusaha menunjukkan keidelismeannya masing-masing. Merunut dari kasus tersebut, langkah yang diambil adalah bagaimana menjadikan seteru sebagai sekutu. Yaitu merangkul setiap lawan tanding menjadi sebuah tim yang kuat, untuk selanjutnya dimanfaatkannya jaringan yang terjalin menjadi sibiosis mutualisme bagi industri kreatif. Desainer-desainer muda lokal Balikpapan, masih perlu belajar lebih keras untuk dapat memasuki industri kreatif yang sarat dengan persaingan skill dan penguasaan teknologi. Tidak hanya bermodalkan semangat berapi-api, perlu juga ditingkatkan daya imajinasi untuk menangkap realitas sosial budaya masyarakat yang terjadi di keseharian kita. Itu menjadi penting bilamana terjadi kebuntuan ide terhadap sebuah project karya visual. Jadilah seorang desainer yang terbuka terhadap realitas yang terjadi di masyarakat dan tak lelah untuk belajar serta berdoa. Tuhan beserta orang-orang pemberani.
*) C.Jayadi / keep fight for the right
Kurangnya wawasan dan pengkerdilan kreatifitas yang terjadi karena tidak terbukanya pintu silaturahim yang menjadi landasan kekuatan antar kreator. Ada kecarut marutan yang terjadi pada setiap hubungan antar komunitas kreatif. Individualistisme yang di pegang teguh oleh setiap pencipta karya perlu dicairkan dengan sering diadakannya kegiatan pameran ataupun gelar seni dan budaya, agar terjalin forum budaya lokal yang lebih membumi.
Harusnya keheterogenan masyarakat Balikpapan menjadi sebuah aset budaya, sehingga tidak hanya saudara-saudara di pedalaman Kalimantan yang menjadi sumber ekspoitasi budaya. Melek terhadap wawasan berkesenian juga harus segera dibudidayakan, tidak hanya berkuntat dengan ilmu keteknikan yang masih menjadi andalan wawasan keilmuan masyarakat Balikpapan. Bila tidak bekerja di industri alat berat atau minyak, batubara dan gas alam, kiranya belum afdol. Itu sama saja pemampatan terhadap wawasan berkreatifitas kita. Sehingga masyarakat seni khususnya desainer komunikasi visual, yang ada di bumi Kalimantan merasa terkungkung ruang geraknya, dan akhirnya dianggap seperempat mata atau bahkan dilupakan dari ranah industri kreatif Balikpapan
Dalam dunia pendidikan khususnya DKV, terjadi pembentukan karakter seseorang, bagaimana seseorang itu berkembang itu terserah dari individu tersebut. Kesempatan yang terbuka bagi orang kreatif selalu sempit, tapi itu merupakan jalan menuju lorong bumi industri kreatif khususnya DKV yang masih menawarkan lava pijar imajinasi yang luar biasa panasnya. Obrolan singkat dengan salah satu suhu saya, menyingkap bahwa segala segala sesuatu di tanah Kalimantan masih diukur dengan uang. Tidak ada kebebasan dalam mengeksploitasi karya, dalam artian tidak adanya kebebasan berekspresi diri bagi aktivis dan kreator. Yang dihargai masih sebuah hasil akhir bukan proses bagaimana sebuah karya itu dihasilkan. Bukankah untuk membuat hasil akhir perlu dimulai dari sebuah ide, konsep, data verbal, data visual, untuk selanjutnya mengarah ke eksekusi desain yang matang?
Tak dipungkiri para penggerak desain masih terkotak-kotak, dan berusaha menunjukkan keidelismeannya masing-masing. Merunut dari kasus tersebut, langkah yang diambil adalah bagaimana menjadikan seteru sebagai sekutu. Yaitu merangkul setiap lawan tanding menjadi sebuah tim yang kuat, untuk selanjutnya dimanfaatkannya jaringan yang terjalin menjadi sibiosis mutualisme bagi industri kreatif. Desainer-desainer muda lokal Balikpapan, masih perlu belajar lebih keras untuk dapat memasuki industri kreatif yang sarat dengan persaingan skill dan penguasaan teknologi. Tidak hanya bermodalkan semangat berapi-api, perlu juga ditingkatkan daya imajinasi untuk menangkap realitas sosial budaya masyarakat yang terjadi di keseharian kita. Itu menjadi penting bilamana terjadi kebuntuan ide terhadap sebuah project karya visual. Jadilah seorang desainer yang terbuka terhadap realitas yang terjadi di masyarakat dan tak lelah untuk belajar serta berdoa. Tuhan beserta orang-orang pemberani.
*) C.Jayadi / keep fight for the right
No comments :
Post a Comment