Tuesday, November 25, 2008

LAWAN KETERBATASAN

Tak dipungkiri bahwa fungsi sekolah adalah tempat mendidik dan mengembangkan minat dan bakat setiap individu. Mungkin sebagian siswa berharap bahwa fasilitas yang akan didapatkan di sekolah akan dapat menunjang keinginan maju setiap siswa. Bila dilihat dari berbagai aspek dan latar belakang kehidupan sosial mereka, tidak dipungkiri sebagian dari mereka ada yang masuk kategori C-D. Jadi bagaimana mungkin mereka juga dapat belajar kembali di rumah, untuk menerapkan ilmu dari sekolah, bila di sekolah pun mereka tidak dapat menikmati fasilitas tersebut.

Menilik dari hal tersebut dan kilas balik sejenak perjuangan mereka, dengan semangat yang luar biasa mereka berbondong-bondong untuk masuk ke dalam institusi pendidikan kejuruan dengan status siswa. Setelah melalui proses yang panjang, mereka akhirnya dinyatakan resmi masuk sebagai "anggota". Setelah mendapatkan seragam, buku, jadwal pelajaran, dan masuk belajar, betapa kagetnya mereka begitu mendapati kelas dan fasilitas yang terdapat di dalamnya tidak seperti yang dibayangkan. Kalaupun ada fasilitas tersebut, mungkin sudah dianggap kadaluarsa. Jalan yang biasa ditempuh adalah pemerasan terselubung terhadap siswa dengan dalih untuk pengembangan kemampuan individu mereka. Padahal secara teknis hal itu tidak terjadi, pun terjadi tidak prosedural, yang beranakpinak pada pembodohan siswa tersistematis. Untuk bangsa yang besar, hal memalukan, tapi untuk urusan perut yang semakin "membesar" hal ini biasa saja.

Rasa haus akan ilmu, juga tidak akan bisa terlampiaskan oleh siswa, bila cuma mengandalkan ilmu dalam otak pengajar yang kadang terbatas dan beku pada titik 0 derajat. Pengadaaan workshop untuk disiplin ilmu tertentu layak untuk dipertimbangkan dan rutin untuk diadakan agar didapat pembanding antara ilmu sekolah dengan ilmu industri, bukan hanya siswa yang setiap tahunnya harus turun gunung ke industri untuk melaksanakan PI, PKL, atau apapun namanya. Tapi industrilah yang harusnya turun ke sekolah (dengan mengikuti prosedur) untuk berbagi ilmu. Bagaimana Indonesia maju kalo setiap individu cuma berusaha untuk saling tipu menipu dan membodohi antar rakyat bangsa ini ? Sementara mereka yang berilmu cuma menjadi budak pekerja negara lain ? Sebuah pe-er BESAR untuk dunia pendidikan kita.

Kesimpulannya adalah keterbatasan fasilitas ataupun tenaga pengajar dapat teratasi bila kita sebagai orang yang peduli akan pendidikan (Indonesia umumnya) dapat saling berbagi ilmunya dan langsung turun ke lapangan untuk melihat betapa terpuruknya dunia pendidikan kita saat ini. Jangan hanya teriak lantang tanpa bisa membuktikan, bahwa kita memang bisa dan mampu untuk mengangkat bangsa ini ke tempat yang lebih baik. Semua orang bisa menyerah. Itu hal yang termudah yang bisa dilakukan di dunia. Tapi tetap bertahan saat semua orang menganggap kita akan gagal, itulah kekuatan sejati. Meminjam tema Pinastika Ad Festival 2006, LAWAN KETERBATASAN !!!

*) C. Jayadi / keep fight for the right

No comments :